Pages

Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 April 2012

Obyek Wisata Kabupaten Jembrana


Indotoplist.com : Kabupaten Jembrana adalah satu dari 9 Kabupaten dan Kota yang ada di Propinsi Bali, terletak di belahan barat pulau Bali, dengan luas wilayah 841.800 Km² atau 14,96 % dari luas wilayah pulau Bali. Terdapat banyak obyek wisata di kabupaten ini antara lain : Bunut Bolong, Pantai Pengeragoan, Pantai Medewi, Pura Rambut Siwi, Delod Berawah, Pantai Perancak, Pantai Baluk Rening, Pantai Candikusuma, Bendungan Palasari, Sangkaragung, Musium Manusia Purba, Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat.
Obyek Wisata Kabupaten Jembrana
Bunut Bolong

Bunut Bolong terletak di desa Manggisari kecamatan Pekutatan, 49 km ke arah timur dari kota Negara dan kurang lebih kurang 86 km kearah barat Kota Denpasar. Bunut Bolong adalah pohon Bunut yang tumbuh lestari di mana di tengah akar akarnya terdapat jalan raya yang menghubungkan kecamatan Pekutatan dengan Kabupaten Buleleng.

Yang menarik adalah alam lingkungannya sepanjang mata memandang penuh dengan pohon cengkeh, udara sejuk dan sangat cocok untuk Wana Wisata.

Bunut Bolong disamping sebagai tumbuhan yang alami, juga mempunyai nilai magis menurut keyakinan masyarakat sekelilingnya. Di bagian depan-selatan Bunut Bolong itu terdapat sebuah tempat suci berupa pura yang bernama Pujangga Sakti. Dengan bentuknya yang penuh lekukan-lekukan menambah daya tarik Bunut Bolong itu.

Disamping keunikan Bunut Bolong itu sendiri, di sebelah baratnya juga terdapat hamparan hutan yang membentang dari selatan ke utara yang sangat mempesona untuk dinikmati. Karena bila kita berdiri di sekitar Bunut Bolong kita akan dapat menyaksikan perkebunan cengkeh yang juga memiliki keindahan tersendiri.
Obyek Wisata Kabupaten Jembrana
Pantai Pengeragoan

Obyek wisata ini terletak di Desa Pengeragoan, kecamatan Pekutatan, tepatnya di Pintu Gerbang Timur Kabupaten Jembrana, berbatasan dengan Kabupaten Tabanan, di pinggir selatan jalan raya yang menghubungkan Gilimanuk-Denpasar.

Pantai berpasir hitam dengan deburan ombak Samudra Indonesia dan lambaian pohon nyiur dan pandan ini cocok untuk tempat istirahat sejenak bagi wisatawan. di bagian utara Desa Pengeragoan, merupakan tempat terindah untuk menikmati pemandangan Pantai Pengeragoan.
Obyek Wisata Kabupaten Jembrana
Pantai Medewi

Pantai Medewi  adalah Pantai yang cukup indah dengan lekuk pantai yang sangat menawan, terletak di Desa Medewi 24 Km timur kota Negara dan 72 Km dari Denpasar, dapat dicapai dengan segala jenis kendaraan.

Pantai Medewi cocok untuk tempat surfing karena ombaknya yang panjang dan lama baru pecah sesuai sarat surfing yang diinginkan. Dari sini dapat menikmati Sunset yang indah.

Fasilitas yang dimiliki Hotel yang cukup reprentatif bagi wisatawan Manca Negara dilengkapi dengan kolam renang dan Restauran yang ditata cukup artistik di halaman hotel tersebut.
Obyek Wisata Kabupaten Jembrana
Rambut Siwi

Rambut Siwi  terletak 18 Km arah ke timur dari Kota Negara dan 78 Km arah ke barat dari kota Denpasar. Dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan serta tempat parkir yang cukup luas.

Disini terdapat pura Sad Kahyangan dan dibangun erat kaitannya dengan kedatangan seorang Pendeta dari Majapahit yang melakukan perjalanan keagamaan ke Bali dan singgah di tempat ini untuk memberikan ajaran Agama Hindu.

Karena hormatnya penduduk setempat kepada sang pendeta yang bernama Dang Hyang Nirartha itu, dimintalah rambutnya untuk dipuja dan disimpan di Pura  ini sehingga nama Pura ini disebut Pura Rambut Siwi. 


 
 

>>>!!!Kami Hanya Penyedia Berita!!!<<<
...!!!Harap kunjungi situs Asli!!!!...
Dan pilih iklannya agar kita saling menguntungkan
Anda Mendapat Informasi, Merekapun Juga Dapat Income 
^_^
Jangan Lupa Mampir lagi di sini yaa?
>>>www.JAGOANBERITA.info<<<

Pesan dari:    Anugerah Mini Market Tapen, Cindogo - Bondowoso
 

Suku Baduy di Pedalaman Banten

Indotoplist.com : Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo
Suku Baduy di Pedalaman BantenWilayah kanekes bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Tidak heran bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sunda dialek Sunda-Banten. Namun mereka juga lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika berdialog dengan penduduk luar.




>>>!!!Kami Hanya Penyedia Berita!!!<<<
...!!!Harap kunjungi situs Asli!!!!...
Dan pilih iklannya agar kita saling menguntungkan
Anda Mendapat Informasi, Merekapun Juga Dapat Income 
^_^
Jangan Lupa Mampir lagi di sini yaa?
>>>www.JAGOANBERITA.info<<<

Pesan dari:    Anugerah Mini Market Tapen, Cindogo - Bondowoso

Minggu, 13 November 2011

Sejuta Pesona Pulau Sangiang Banten

Setelah September 2011 yang lalu saya dibuat penasaran dengan pulau ini. Dan akhirnya mengunjunginya, Oktober tepatnya 22 dan 23 Oktober 2011 saya kembali ke Pulau Sangiang ini. Di kunjungan yang pertama saya belum berhasil mengeksplore pulau ini terlebih ke pemukiman penduduknya yang berjumlah sekitar seratusan warga. Pulau Sangiang ini adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Selat Sunda, yakni antara Jawa dan Sumatra dimana secara administratif pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang Banten.

Spoiler for Sangiang Island:

Spoiler for Sangiang Island:


Sekitar 2 minggu saya mulai menghubungi Bapak TNI AL yang nantinya akan membantu saya mengeksplore pulau ini termasuk mencarikan perahu yang lebih murah dibandingkan perahu yang saya gunakan di kunjungan pertama. Sengaja saya minta tolong dicarikan perahu warga di pulau ini, setidaknya memberikan tambahan penghasilan untuk warga di situ. Akhirnya dapat juga perahunya. Perahu ini milik Pak Rais dimana para ABK nya adalah penduduk di Pulau Sangiang.

Dari Jakarta, kami berkumpul dulu di belakang Plaza Semanggi, sebelum berangkat. Kami satu rombongan 15 orang yang dengan satu mobil Elf dan satu mobil pribadi yang dibawa salah seorang teman. Sekitar jam 8 peserta sudah kumpul semua dan berangkatlah kami. Nasi uduk dan lontong sarapan pagi yang kami makan di dalam Elf. Sarapan ini pemberian dari Mbak Mike dan Mbak Novie (Duo Pinky saya menyebutnya karena semua barang yang digunakan berwarna Pink). Kami belum membeli air minum untuk selama di Pulau Sangiang, maka berhenti dulu di rest area dalam tol. Kami membeli 1 dus air mineral ukuran 1.500 ml dan 2 dus air mineral gelas.

Sebelumnya para peserta diberitahu bahwa selama di Pulau Sangiang mesti mengurusi makan sendiri terkecuali makan siang pada hari Minggu yang sudah saya pesan kepada ABK seharga 15 ribu seorang untuk 16 porsi. Kurang lebih rencana makan kami selama di sana seperti ini :
  • Makan Pagi Hari Pertama : sarapan di rumah masing-masing atau bawa dari rumah
  • Makan Siang Hari Pertama : mencari di daerah Anyer
  • Makan Malam Hari Pertama : bungkus nasi yang dibeli ketika makan siang
  • Makan Pagi Hari Kedua : masak mie instan dan bikin roti bakar
  • Makan Siang Hari Kedua : sudah pesan ke ABK
  • Makan Malam Hari Kedua : mencari di perjalanan pulang dari Anyer ke Jakarta.
Spoiler for Sangiang Island:

Rencana di atas diberitahukan ke peserta agar bisa mempersiapkan kebutuhannya masing-masing. Kebutuhan pribadi lainnya seperti sleeping bag, obat pribadi, matras, senter, alat snorkeling, lifejacket, baju ganti, alat makan, jaket, jas hujan, perlengkapan mandi serta meminum obat anti malaria juga yang menjadi Informasi di hari-hari sebelum kepergian. Sedangkan kebutuhan trip seperti tenda, alat masak juga perlu disiapkan.
Spoiler for Sangiang Island:

Sekitar jam 10.30 kami sampai di tempat yang sudah diarahkan oleh pak Rais pemilik kapal yaitu di Hotel Pisita. Sehubungan di daerah Banten sedang diadakan Pilkada maka kami baru bisa menyebrang jam 12 siang. Akhirnya kami memutuskan untuk bermain - main di pantai hotel tersebut, ada beberapa penjualan baju serta suvenir maka kami juga berbelanja. Pukul 12 siang kami mencari warung nasi untuk makan siang sekaligus bungkus untuk makan malam. Akhirnya ketemulah Warung Nasi Padang yang tidak begitu jauh dari dermaga desa Tegal, Cikoneng.
Spoiler for Sangiang Island:

Setelah selesai makan siang kami langsung meluncur ke dermaga penyeberangan dimana kapal sudah siap mengangkut kami. Dermaga ini letaknya sekitar 2 km dari Pasar Anyer setelah hotel Sanghyang. Cuaca hari ini cerah mengarah ke panas, sekitar satu jam perjalanan kami dari Anyer ke Pulau Sangiang. Pertama kali kami kunjungi adalah lokasi di sekitar Villa Direksi dekat Pos TNI AL yang terdapat bangunan dan bekas tempat penyimpanan meriam Jepang di Perang Dunia ke 2. Bangunan Jepang ini sudah hancur dan ditumbuhi banyak tanaman dan pohon. Kemudian kami melanjutkan tracking hutan menuju Pantai Batu Mandi dan Menara Pandang.
Spoiler for Sangiang Island:

Agak masuk sedikit ke arah barat, sekitar 200 meter dari start tracking hutan, akan dijumpai bangunan bekas resort-resort yang sudah hancur. Di depan resort ini terdapat pantai Batu Mandi yang menurut saya cocok untuk menantikan matahari tenggelam. Berada di pantai ini berasa berada di tempat yang sangat jauh dari Jakarta, sepi, tenang itu yang saya rasakan. Jika mau meniti tangga ke bukit atas di tempat ini juga bisa melihat wilayah pulau Sangiang dari menara pandang ( tempat tertinggi di Pulau Sangiang ).
Spoiler for Sangiang Island:

Spoiler for Sangiang Island:

Setelah puas bermain main di sini sekitar jam 4 kami kembali ke perahu untuk menuju ke Dermaga Sangiang. Di dekat dermaga inilah tempat kami mendirikan tenda untuk bermalam. Ada 3 tenda yang kita gunakan. Setelah mendirikan tenda-tenda ini saya dan beberapa teman mencoba jalan ke arah dalam dan ternyata kami menuju rawa-rawa yang terdapat jembatan kecil, dari sini sedikit pemandangan matahari terbenam terlihat walau tertutup pohon. Sesekali kami melihat ke bawah jembatan karena melihat ikan-ikan seukuran jari tangan lewat secara bergerombol.
Spoiler for Sangiang Island:

Spoiler for Sangiang Island:

Setelah puas bermain di jembatan kecil kami kembali ke tenda. Waktu mulai malam... biasanya kegiatan yang dilakukan adalah kumpul, makan malam, dan bermain. Namun karena peserta kali ini banyak yang belum saling kenal akhirnya kita kumpul dan saling mengenalkan dirinya dan aktivitas masing-masing. Setelah saling memperkenalkan diri kami memulai makan malam.
Spoiler for Sangiang Island:

Menatap ke langit bintang mulai bermunculan sepertinya kali ini tidak seperti kunjungan pertamaku yang sepi bintang. Akhirnya kami pun tidur di atas dermaga sangat menarik dengan menatap lampu lampu di daerah Anyer dari kejauhan serta beratapkan bintang-bintang di angkasa. Sleeping bag dan matras pun siap digelar di atas dermaga. Akhirnya bapak TNI AL datang juga membawa daging yang katanya siap buat dibakar-bakar dan disantap oleh kami. Sedikit cerita dari Pak Rahman (TNI AL), untuk kami selalu waspada... untuk tidur bergantian, serta tidak berjalan di dalam hutan dalam keadaan gelap malam, hal ini dikarenakan masih banyaknya rawa hidup di sekitar hutan Pulau Sangiang ini...
Spoiler for Sangiang Island:

Dua orang dari TNI AL ini yang sedang bertugas menjaga pulau ini. Dengan alat pancingnya mereka siap menemani kami malam ini. Setelah ngobrol banyak dengan si bapak ini, saya dan ketua rombongan trip yang berjaga-jaga di sekitar tenda akhirnya lelap juga. Beberapa rekan-rekan yang tidur di dermaga juga ada beberapa yang masuk ke dalam tenda sekitar jam 2 malam, dimana angin mulai menyapa kami.
Spoiler for Sangiang Island:

Sekitar jam setengah lima saya terbangun dan menghampiri dermaga untuk melihat matahari pagi. Keadaan pagi kali ini berbeda dengan kunjungan pertama saya yang disambut matahari yang sangat cantik. Matahari hari ini seperti malu-malu menampakkan. Akhirnya saya bersiap-siap memasak air panas untuk menyeduh mie instan, susu, kopi, serta teh. Sementara beberapa teman lainnya bermain di rawa dekat jembatan kecil di belakang. Setelah semua selesai sarapan, kami mulai merapikan tenda dan semua perlengkapan. Tidak lupa juga untuk memunguti sampah-sampah di sekitar area tenda.
Spoiler for Sangiang Island:
 
 
 
<<>>
^_^
Jangan Lupa Mampir lagi di sini yaa?
>>>www.JAGOANBERITA.info<<<

Pesan dari:    Anugerah Mini Market

Asal Mula Alat Musik Angklung





Bandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung, dimana calung dikenal sebagai alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Sejarah Angklung



Sejak kapan angklung muncul masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun, ada angklung tertua yang usianya sudah mencapai 400 tahun. Angklung tersebut merupakan Angklung Gubrag yang dibuat di Jasinga, Bogor, Jawa Barat. Di Serang, angklung jenis ini dianggap sebagai alat musik sakral yang digunakan saat mengiringi mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah penyakit.

Angklung memang dikenal berasal dari Jawa Barat. Namun, di beberapa daerah di Indonesia juga ditemukan alat musik tradisional tersebut. Di Bali, angklung digunakan pada saat ritual Ngaben. Di Madura, angklung digunakan sebagai alat musik pengiring arak-arakan. Sementara di Kalimantan Selatan angklung digunakan sebagai pengiring pertunjukan Kuda Gepang. Sejarah mencatat bahwa di Kalimantan Barat juga terdapat angklung, tapi menurut beberapa tokoh kebudayaan, angklung tersebut tidak ada lagi.

Pada 1938, Daeng Soetigna menciptakan angklung yang didasarkan pada suara diatonik. Selain sebagai pengiring mantera, awalnya, angklung digunakan untuk upacara-upacara tertentu, seperti upacara menanam padi. Namun, seiring dengan berkembangnya alat musik ini, angklung digunakan dalam pertunjukan kesenian tradisional yang sifatnya menghibur.

Pada masa penjajahan Belanda, angklung menjadi alat musik yang membangkitkan semangat nasionalisme penduduk pribumi. Karena itu, pemerintah Belanda melarang permainan angklung, kecuali jika dimainkan oleh anak-anak dan pengemis karena dianggap tidak memberikan pengaruh apa pun.

Setelah mengalami pasang surut, Daeng Soetigna berhasil menaikkan derajat alat musik angklung. Bahkan, angklung diakui oleh seorang musikus besar asal Australia Igor Hmel Nitsky pada 1955. Angklung dengan suara diatonis yang diciptakan oleh Daeng membuat angklung turut diakui pemerintah sebagai alat pendidikan musik.

Sepeninggal Daeng Soetigna, angklung dikembangkan lagi berdasarkan suara musik Sunda, yaitu salendro, pelog, dan madenda. Orang berjasa yang mengembangkannya adalah Udjo Ngalagena. Udjo yang merupakan salah seorang murid Daeng Soetigna ini mengembangkan alat musik angklung pada 1966.

Sebagai wujud mempertahankan kesenian angklung, Udjo atau biasa dikenal Mang Udjo membangun pusat pembuatan dan pengembangan angklung. Tempat tersebut diberi nama 'Saung Angklung Mang Udjo'. Lokasinya berada di Padasuka, Cicaheum, Bandung. Di tempat ini, seringkali diadakan pertunjukan kesenian angklung. Pengunjung yang hadir dapat ikut serta mencoba belajar memainkan alat musik



<<>>
^_^
Jangan Lupa Mampir lagi di sini yaa?
>>>www.JAGOANBERITA.info<<<

Pesan dari:    Anugerah Mini Market

Total Pageviews