Pages

Tampilkan postingan dengan label Transaksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Transaksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Hati Hati Dengan Muslihat Kartu Kredit Yang MENJERUMUSKAN !!


 

Cuma mau share pengetahuan saya dalam menelusuri sistem perhitungan kartu kredit (Credit Card) yang salah kaprah, dan sepertinya juga kurang diperjelaskan oleh pihak marketing perbankan pengelola kartu kredit terhadap calon/ nasabahnya. Sehingga kita sering kebingungan atas dasar perhitungan2 tagihan kita. Moga2 informasi ini dapat membantu.

Adapun ini berdasarkan penjelasan dari Customer Service dari beberapa kartu kredit yang saya pakai dimana ada yg dikeluarkan oleh Bank Lokal dan ada yang dikeluarkan oleh Bank Internasional. Adapun ini hanya sekedar masukan, dan supaya info ini tidak bias, sampai saat ini saya Alhamdulillah tidak mempunyai masalah tagihan kartu kredit.

Marketing kartu kredit biasanya hanya memberitahukan kita sebatas:
1. Tagihan tidak akan berbunga apabila kita bayar penuh sebelum jatuh tempo tagihan.
2. Bunga hanya akan dikenakan apabila ada sisa tagihan yang belum terbayarkan dan dihitung berdasarkan sisa tagihan x rasio harian bunga per bulan sampai dengan tanggal cetak bulan berjalan dan sampai dengan pelunasan dari sisa tagihan tersebut.

Jadi pengertian saya sebelumnya, kalau kita bayar lunas total tagihan sebelum jatuh tempo, maka tidak akan ada beban bunga apapun dan apabila kita bayar sebagian, maka beban bunga hanya diperhitngkan berdasarkan sisa tagihan x total rasio bunga harian sejak tanggal jatuh tempo tagihan sampai dengan tanggal cetak tagihan baru atau pelunasan.

Ilustrasi 1 (JELAS): Sebelum 15 hari sebelum tgl cetak tagihan pertama ada pembelanjaan sebesar Rp10jt. Bila saya lunasi Rp.10jt sebelum jatuh tempo tagihan, maka tidak akan ada beban bunga dan tidak akan ada tagihan di bulan berikutnya (dgn asumsi tidak ada pembelanjaan lainnya di bulan berjalan).

Ilustrasi 2 (SALAH KAPRAH): Berdasarkan pemakaian diatas, kalau saya bayar Rp.9.5jt sebelum jatuh tempo tagihan pertama, maka tagihan bulan berikutnya adalah :
sisa tagihan Rp500rb + total rasio bunga harian (3.6%/30 hari = 0.12% x jumlah hari tertunggak sejak jatuh tempo tagihan x Rp.500rb sisa tagihan) dari tanggal jatuh tempo tagihan sebelumnya sampai tanggal cetak tagihan baru atau
= Rp500rb x 0.12% x 15 hari
= Rp500rb + Rp9rb = Rp509rb (diluar materai dan biaya pembayaran tagihan lama).

TERNYATA SALAH BESAR.

"Ilustrasi 1" pasti bener lah, tapi "ilustrasi 2" ternyata salah besar. dimana kesalahan nya adalah:

1. Apabila ada sisa tagihan yang belum dibayarkan, maka bunga rasio bunga harian dihitung sejak TANGGAL suatu TRANSAKSI, dan bukan sejak tanggal jatuh tempo tagihan.
2. Basis pokok perhitungan bunga bukan berdasarkan sisa tagihan, melainkan besarnya total suatu transaksi yg belum lunas.

Ilustrasi 3 (Inilah yang BENAR): Berdasarkan pemakaian diatas (Rp10jt), kalau saya bayar Rp.9.5jt sebelum jatuh tempo tagihan pertama, maka tagihan bulan berikutnya adalah sisa tagihan Rp500rb + total rasio bunga harian SEJAK TRANSAKSI (3.6%/30 hari = 0.12% x jumlah hari tertunggak SEJAK TRANSAKSI x Rp.10jt BUKAN Rp500rb sisa tagihan) SEJAK TANGGAL SUATU TRANSAKSI sebelumnya sampai tanggal cetak tagihan baru atau kira2
= Rp10JT x 0.12% x 30 hari
= Rp500rb + Rp360rb = Rp860rb (diluar materai dan biaya pembayaran tagihan lama).

Ternyata jauh dari asumsi saya sebelumnya bukan!!!. Saya penasaran akan hal ini karena mempertanyakan koq kenapa bunga bisa 70% dari sisa tagihan saya, sedangkan sisa tagihan saya hanya beberapa ratus ribu. Katanya bunga Kartu Kredit 3.6%/ bulan koq di tagihan keluarnya bisa lebih dari 70%/bulan sisa hutang??.

Jadi ternyata percuma berusaha bayar maximal kalau



<<>>
^_^
Jangan Lupa Mampir lagi di sini yaa?
>>>www.JAGOANBERITA.info<<<

Pesan dari:    Anugerah Mini Market

Senin, 19 April 2010

Teliti Treadmills Sebelum Membeli

KOMPAS.com - Latihan kardio sangat disarankan jika Anda ingin menurunkan berat badan. Salah satu alat untuk berlatih kardio adalah treadmills. Mesin ini bahkan memungkinkan kita untuk berolahraga di rumah sendiri tanpa repot-repot ke gym.
Tetapi sebelum memboyong mesin berjalan ini, Edward R.Laskowski dari Mayo Clinic menyarankan sebaiknya kita membuat daftar features atau fasilitas apa saja yang harus kita temukan di dalamnya.
Horsepower, ini adalah satuan kecepatan yang umumnya digunakan pada treadmill. Laskowski menyarankan agar kita memilih treadmill yang kecepatannya minimal 1,5 horsepower, karena ini memungkinkan kita untuk berjalan santai di atas treadmill.
Perhatikan stabilitasnya. Kita harus mencoba terlebih dahulu, seberapa kuat treadmill menerima beban badan kita ketika berjalan di atasnya. Pastikan juga pegangan tangan atau handrails di kiri dan kanannya mudah untuk diraih dan tidak licin ketika bersentuhan dengan air atau keringat. Tes juga saat treadmill dijalankan, perhatikan apakah hentakan kaki kita membuat alas karet yang kita injak menjadi tidak stabil. Karena seharusnya alas karet tersebut tetap kokoh menahan beban kita.
Ukuran handrails yang nyaman. Letakkan telapak tangan di atas handrails, dan rasakan apakah sudah cukup untuk menopang kita ketika berjalan. Kenyamanan bisa juga diukur dari lebar dan panjangnya handrails yang mampu menyesuaikan gerakan jalan atau berlari kita. Jika kita merasa jarak antara tubuh dengan handrails terlalu jauh atau terlalu dekat, sebaiknya cari yang benar-benar ergonomis dengan tubuh.
Memiliki emergency shut-off key. Fasilitas ini ibarat sabuk pengaman bagi kita, sebab ketika treadmill tidak stabil atau alas karetnya tiba-tiba selip, maka mesin akan mati secara otomatis.
Fasilitas program yang mudah dioperasikan. Ini artinya, papan program yang melintang di depan kita mudah untuk terbaca saat kita berjalan atau berlari di atas treadmill. Sehingga ketika kita ingin mengubah kecepatan seiring dengan cepat atau lambatnya gerakan, navigasi alatnya mudah untuk dioperasikan. Dan ingat, tidak selamanya treadmill diukur dari berapa banyak program yang dimiliki. Karena itu hanya membuat kita mengeluarkan kocek lebih banyak dan belum tentu bermanfaat langsung dengan niatan kita membeli treadmill.
Ukur juga tingkat kebisingan dari alat. Jika suara mesin yang dikeluarkan justru membuat kita stres, buat apa membelinya? Terlebih ketika kita berencana untuk menggunakan treadmill sambil mendengarkan musik dari perangkat stereo yang kita punya.
Cermati detail asuransi yang diberikan. Kemudahan apa saja yang kita dapat ketika treadmill rusak? Apakah tersedia layanan kerusakan? Dan kondisi kerusakan seperti apa yang ditanggung oleh produsen? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita ajukan kepada pelayan toko, agar kita benar-benar mengerti situasi dan kondisi seperti apa yang ditanggung produsen.
(Siagian Priska/Prevention Indonesia)



Editor: din




Dikutip dari: kompas.com
...!!!Harap kunjungi situs Asli!!!!...
<<---Dan pilih iklannya agar kita saling menguntungkan--->>
Anda Mendapat Informasi, Merekapun Juga Dapat Income


Kamis, 01 April 2010

Merugi Gara-gara Online Shop


Oleh: Evita Ristantya

Ada satu fenomena baru yang akhir-akhir ini menjamur di kalangan anak-anak SMP, SMA, bahkan kuliahan. Entah dari mana asalnya, banyak online shop yang bermunculan. Ada yang menaruh barangnya di situs jejaring sosial seperti Facebook. Ada juga yang membuat blog khusus berbelanja online.

Barang-barang yang dijual beraneka macam. Mulai aksesori seperti kalung dan gelang, sepatu, tas, hingga jam tangan. Bisa dibilang hampir semua kebutuhan anak muda ada di situ.

Dila mungkin salah seorang yang bersorak kegirangan dengan banyaknya online shop. Pasalnya, si cewek gila belanja itu sekarang nggak perlu susah-susah keluar rumah. Tinggal duduk anteng di depan laptop, kirim pesenan lewat SMS, barang bakal langsung dikirim ke rumah.

''Ini lucu bangeeeet!" seru Dila saat di layar laptopnya terpampang aneka macam dress dengan tulisan BIG SALE. ''Iya bener lucu. Tapi, harganya mahal banget. Nggak sanggup belinya," komentar Fia yang sedang main ke rumah Dila.

''Ah nggak mahal kali. Coba aja sisihin uang saku kamu," saran Dila. Fia mengangguk setuju dengan usul itu.

''Emangnya gimana caranya sih belanja di online shop, La?" tanya Fia dengan muka penasaran. Selama ini sih dia sering mendengar tentang online shop. Cuma, dia belum tertarik memanfaatkan jasa itu.

''Kamu pilih-pilih barangnya. Nanti SMS-in kode barang yang kamu mau. Kalau udah dibales, nanti transfer duit, udah deh. Tinggal nunggu barangnya sampai rumah," jawab Dila dengan lagak ala seorang guru. Dirinya sudah tiga kali memanfaatkan jasa online shop, sejauh ini semuanya baik-baik aja.

"Nggak takut kena tipu, La?" tanya Fia. Jelas aja dong, belanja online shop berisiko kena tipu. Tahu tempatnya aja nggak, kenal sama penjualnya juga nggak. Mana ada jaminan barang bisa nyampai rumah.

''Nggak sih. Memang namanya online shop, pakainya asas kepercayaan. Kalau kamu nggak percaya, jangan belanja. Beres kan?" komentar Dila enteng.

Kamis sore, sebuah paket tiba di rumah Dila. Waktu dibuka, ternyata isinya sepasang sepatu bergaya moccasin yang seminggu lalu dipesannya dari salah satu online shop di Facebook. Sepatu warna cokelat muda tersebut ternyata lebih bagus aslinya daripada yang dilihat Dila difoto.

''Yeaa, asyik-asyik barangnya sudah datang," Dila berucap kegirangan sambil memakai sepatu itu keliling-keliling rumah.

''Ada apa sih La, kok kamu kayak menang undian rumah gitu?" tanya Sania, kakak semata wayangnya dengan heran.

''Sepatu pesenanku dateng, Kak. Lihat deh, bagus kan?" Dila menunjukkan sepatu itu kepada kakaknya. Sania hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan adiknya. Memang benar sih apa yang dibilang Dila, sepatu itu cukup unik. Kayaknya harganya juga lumayan mengerikan.

''Perasaan akhir-akhir ini kamu diapelin terus ya sama pak-pak pengantar paket barang," sindir Sania. Sifat gila belanja adiknya memang disadarinya sejak Dila masuk SMA. Tapi, keberadaan online shop seakan-akan makin mendukung hobi itu. Tiap pulang sekolah, kerjaan Dila duduk manis di depan laptop dan browsing aneka barang idamannya.

''Kak Sani sirik aja nih. Weee..." Dila menjulurkan lidahnya yang disambut sambitan boneka monyet pakai pita ungu.

''Awas tuh uang saku kebobolan. Nanti belum akhir bulan sudah minta lagi ke mama," ujar Sania mengingatkan.

''Iya kakak," respons Dila sambil berlalu ke dalam kamarnya.

Tampaknya nasihat Sania hanya masuk kuping kanan dan langsung mendal keluar lagi. Buktinya, paling tidak seminggu sekali ada petugas antar barang yang setia nyamperin rumah mereka demi menyampaikan barang belanjaan milik Dila.

Hari ini pun Dila memulai rutinitasnya, menyambangi satu per satu online shop favoritnya. Sepatu, tas, pakaian, barang-barang itu memenuhi kepala Dila. Rasanya tidak sabar ingin segera memesannya. Dila pun mengirimkan SMS berisi transaksi barang-barang yang hendak dia beli. Saat sudah mendapat balasan, Dila langsung bergegas menuju mesin ATM di kompleks ruko dekat rumahnya. Hatinya bersenandung riang, membayangkan barang-barang itu akan segera sampai rumahnya paling tidak seminggu lagi.

Betapa kagetnya Dila waktu hendak mentransfer uang berulang-ulang, tertulis transaksi gagal. Kemudian dia melihat saldo dan benar saja, hanya tersisa beberapa ribu rupiah. Ah, bayangan barang-barang itu akan jadi miliknya langsung lenyap. Dila memencet-mencet nomor di handphone-nya. Ditekannya tombol dial.

''Halo Kak," sapa Dila saat telepon diangkat.

''Ada apa La?" tanya Sania heran. Perasaan tadi Dila keluar rumah terburu-buru, belum ada setengah jam yang lalu. Sekarang kok tiba-tiba menelepon.

''Aku boleh pinjem duit nggak? Mendesak banget nih," tanya Dila.

''Buat apa? Buat belanja lagi?" tebak Sania, heran dengan ulah adiknya.

Dila diam sejenak. Kalau dia mengutarakan yang sebenarnya, sangat mungkin kakaknya tidak bersedia meminjami uang.

''Bukan. Mau beli buku. Duitku lagi dipinjem temenku Kak. Belinya harus sekarang, besok wajib dibawa ke sekolah."

''Oke. Ambil aja ATM-ku di rumah," ujar Sania yang sebenarnya nggak tegaan. Masak minjemin duit ke adik sendiri buat keperluan sekolah aja nggak mau.

''Hore. Kakak baik banget. Aku pinjem tiga ratus ribu rupiah ya," pinta Dila.

Sampai tiga minggu, bahkan sebulan barang pesanan Dila belum juga datang. Dila berharap mungkin hanya ada sedikit hambatan dalam pengirimannya. Dia SMS nomor online shop yang digunakannya bertransaksi. Tapi, nggak pernah dibalas. Dicobanya menelepon nomor tersebut, nggak pernah diangkat. Sampai ketika dicoba lagi, nomor itu sudah tidak aktif. Ingin rasanya Dila menangis. Uang Rp 300 ribu punya Sania melayang. Belum lagi dia harus memikirkan cara mengembalikan uang itu.

Penulis adalah Mahasiswa Unair

Dikutip dari: jawapos.com
...!!!Harap kunjungi situs Asli!!!!...
<<---Dan pilih iklannya agar kita saling menguntungkan--->>
Anda Mendapat Informasi, Merekapun Juga Dapat Income

Total Pageviews